Desa Gulangpongge

Kec. Gunungwungkal, Kab. Pati

Kembali ke Berita Kebencanaan

Mahasiswa KKN UGM Tingkatkan Kesiapsiagaan Warga RW 2 Gulangpongge melalui Sosialisasi Mitigasi Bencana Tanah Longsor

31 Juli 2026

Gulangpongge, Gunungwungkal, Pati. Sebagai wilayah yang berada di kawasan perbukitan lereng Gunung Muria, Desa Gulangpongge memiliki potensi bencana tanah longsor yang perlu mendapat perhatian bersama, terutama saat musim hujan dengan curah hujan tinggi. Menyadari pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM Gunungwungkal Manunggal menyelenggarakan program sosialisasi mitigasi bencana tanah longsor bagi warga RW 2 Desa Gulangpongge. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi longsor di lingkungan sekitar sekaligus memperkenalkan langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana.

Program ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga menghadirkan hasil kajian yang telah dilakukan mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Salah satu luaran utama kegiatan adalah penyusunan peta kerawanan tanah longsor dan peta kerapatan vegetasi berbasis metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) sebagai media edukasi sekaligus informasi bagi masyarakat dalam mengenali tingkat kerawanan wilayah tempat tinggal mereka.

Sebelum kegiatan sosialisasi dilaksanakan, tim KKN melakukan serangkaian studi literatur mengenai mitigasi bencana tanah longsor serta teknik pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan observasi lapangan dan koordinasi bersama perangkat desa serta warga setempat untuk memperoleh informasi mengenai riwayat kejadian longsor, lokasi-lokasi yang pernah terdampak, serta kondisi lingkungan yang berpotensi mengalami longsor. Informasi yang diperoleh dari masyarakat menjadi bagian penting dalam penyusunan peta sehingga hasil yang disajikan tidak hanya berdasarkan analisis spasial, tetapi juga didukung oleh pengalaman masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman bencana.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, mahasiswa menyusun peta kerawanan tanah longsor yang menggambarkan tingkat risiko pada berbagai wilayah di Desa Gulangpongge. Selain itu, dilakukan pula analisis kerapatan vegetasi menggunakan metode NDVI untuk mengetahui kondisi tutupan vegetasi yang berperan dalam menjaga kestabilan lereng. Kedua peta tersebut kemudian dicetak dalam ukuran yang mudah dibaca dan digunakan sebagai media utama selama kegiatan sosialisasi berlangsung.

Pelaksanaan sosialisasi diawali dengan penyampaian materi mengenai kondisi tanah longsor di Desa Gulangpongge, faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya longsor, serta tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai masyarakat, seperti munculnya retakan tanah, perubahan kemiringan pohon, rembesan air baru, hingga hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama. Selanjutnya, warga diperkenalkan dengan peta kerawanan tanah longsor dan diberikan penjelasan mengenai cara membaca legenda, arti setiap warna pada peta, serta lokasi-lokasi yang memiliki tingkat kerawanan berbeda. Mahasiswa juga menjelaskan bahwa wilayah yang dikategorikan rawan bukan berarti pasti akan mengalami longsor, melainkan memerlukan kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang lebih tinggi.

Selain mengenalkan peta, tim KKN juga memberikan edukasi mengenai langkah-langkah kesiapsiagaan yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi tanah longsor. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya meningkatkan kewaspadaan saat hujan berkepanjangan, menyiapkan barang-barang penting yang mudah dibawa ketika keadaan darurat, mengetahui jalur menuju lokasi aman, hingga mengutamakan keselamatan diri dan keluarga apabila longsor benar-benar terjadi. Warga juga diberikan pemahaman mengenai prosedur memberikan pertolongan pertama kepada korban secara aman serta pentingnya segera menghubungi tenaga kesehatan atau pihak berwenang apabila terjadi keadaan darurat.

Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi, Tim KKN UGM bersama masyarakat juga melakukan pemasangan dua titik kumpul evakuasi yang dapat digunakan apabila terjadi bencana tanah longsor. Titik kumpul tersebut ditempatkan di Lapangan Voli Dukuh Sekar dan Bumi Perkemahan Bukit Pengusen, dua lokasi yang dipilih karena dinilai lebih aman dan mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar. Pemasangan papan penunjuk titik kumpul ini diharapkan dapat membantu warga dalam melakukan evakuasi secara lebih terarah ketika menghadapi situasi darurat.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Warga aktif berdiskusi mengenai pengalaman menghadapi longsor yang pernah terjadi, mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka, serta memberikan masukan terhadap peta yang telah disusun oleh mahasiswa. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa penyampaian materi tidak hanya berlangsung satu arah, melainkan menjadi ruang berbagi pengetahuan antara mahasiswa dan masyarakat yang memiliki pengalaman langsung menghadapi ancaman bencana.

Melalui program ini, Tim KKN UGM Gunungwungkal Manunggal berharap masyarakat RW 2 Desa Gulangpongge semakin memahami potensi bencana di lingkungan sekitarnya dan mampu mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat. Kehadiran peta kerawanan tanah longsor, peta kerapatan vegetasi berbasis NDVI, serta pemasangan titik kumpul evakuasi diharapkan dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat dalam mendukung upaya mitigasi bencana secara berkelanjutan. Lebih dari itu, program ini diharapkan dapat memperkuat budaya sadar bencana di tengah masyarakat sehingga keselamatan dan kesiapsiagaan menjadi tanggung jawab bersama yang terus dijaga, bahkan setelah masa pengabdian KKN berakhir.

Lihat Berita Lainnya