Kec. Gunungwungkal, Kab. Pati
Gulangpongge, Gunungwungkal, Pati. Di tengah teriknya musim kemarau dan medan berbukit yang tidak selalu ramah, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gunungwungkal Manunggal berhasil menuntaskan salah satu program kerja paling menantang selama masa pengabdian mereka, yaitu penanaman pohon dan tanaman penutup di kawasan wisata Bukit Pengusen, wilayah Gulangpongge, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati. Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial menanam bibit, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan riset, observasi lapangan, dan yang terpenting, kerja sama erat dengan warga setempat.
Bukit Pengusen sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam yang mulai berkembang di lereng Gunung Muria. Namun di balik potensinya, kawasan ini menyimpan tantangan tersendiri berupa lahan yang perlu dipulihkan dan minimnya vegetasi penutup yang dapat menjaga kestabilan tanah. Melihat kondisi tersebut, Tim Gunungwungkal Manunggal menjadikan penghijauan sebagai salah satu prioritas program kerja mereka, dengan harapan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan wisata sekaligus lingkungan sekitar.
Proses persiapan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tidak dikerjakan secara terburu-buru. Sebelum turun ke lapangan, tim lebih dahulu melakukan studi literatur guna memastikan jenis tanaman yang dipilih benar-benar sesuai dengan karakteristik wilayah setempat. Tahap ini kemudian dilanjutkan dengan wawancara langsung bersama warga dan pengelola kawasan wisata. Melalui perbincangan tersebut, mahasiswa tidak hanya menggali data teknis mengenai kondisi lahan, tetapi juga menyerap aspirasi serta kebutuhan riil masyarakat terkait jenis tanaman yang mereka harapkan dapat tumbuh di kawasan tersebut. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa program kerja dirancang bukan dari sudut pandang mahasiswa semata, melainkan tumbuh dari dialog dua arah dengan warga yang selama ini hidup berdampingan dengan Bukit Pengusen.
Setelah proses penggalian informasi awal, tim turun langsung ke lapangan untuk melakukan survei kondisi lahan secara menyeluruh. Setiap titik tanam diperiksa satu per satu, mulai dari kemiringan tanah hingga jenis tanahnya, guna memastikan bibit yang akan ditanam nantinya memiliki peluang tumbuh yang optimal. Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga melakukan pengukuran pH tanah serta analisis sederhana terhadap kondisi kesuburan lahan. Ketelitian pada tahap ini menunjukkan bahwa program kerja tidak dikerjakan sekadar formalitas, tetapi benar-benar berlandaskan data dan kajian ilmiah agar hasil penanaman dapat bertahan lama dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Berbekal data lapangan yang telah terkumpul, tim kemudian duduk bersama untuk menyusun rencana penanaman secara matang. Proses koordinasi internal ini menghasilkan layout atau tata letak tanaman yang memperhitungkan jarak tanam antarbibit, sehingga pertumbuhan pohon nantinya dapat berlangsung secara sehat tanpa saling berebut ruang dan unsur hara. Rencana yang telah disusun tersebut tidak lantas dijalankan secara sepihak. Mahasiswa kembali melakukan koordinasi teknis dengan warga untuk mendiskusikan detail pelaksanaan, mulai dari titik-titik penanaman hingga pembagian peran saat hari pelaksanaan tiba. Langkah ini menegaskan komitmen tim untuk menjadikan warga bukan sekadar penonton, melainkan mitra aktif yang dilibatkan sejak tahap perencanaan.
Memasuki tahap persiapan teknis, tim mulai mengumpulkan berbagai alat dan bahan yang dibutuhkan, mulai dari bibit, pupuk, ajir penyangga, hingga label tanaman. Sebanyak 200 bibit pohon dari tiga jenis, yaitu duwet, dewandaru, dan tabebuya, disiapkan untuk mengisi lahan yang telah ditentukan sebelumnya. Lubang tanam juga disiapkan lebih awal, sebuah kerja fisik yang tidak ringan mengingat kontur tanah Bukit Pengusen yang berbukit dan cenderung keras di musim kemarau. Persiapan ini dilakukan secara gotong royong, menggambarkan semangat kolaborasi antara mahasiswa dan warga yang telah terjalin sejak awal program.
Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah pelaksanaan penanaman pohon yang dilakukan bersama-sama oleh mahasiswa dan warga setempat. Suasana penuh kebersamaan terasa saat cangkul demi cangkul tanah digali, bibit ditanam, hingga tanah kembali dipadatkan untuk menopang pertumbuhan pohon-pohon muda tersebut. Kegiatan ini berlangsung pada musim kemarau, sebuah tantangan tersendiri yang menuntut kepedulian ekstra dalam perawatan awal. Oleh karena itu, tim tidak berhenti setelah proses tanam selesai. Penyiraman rutin dan pengecekan kondisi tanaman terus dilakukan secara berkala, mengingat minimnya infrastruktur perawatan lanjutan di lokasi tersebut. Keberlanjutan pemeliharaan ini menjadi bukti bahwa program kerja dirancang dengan visi jangka panjang, bukan sekadar mengejar dokumentasi seremonial semata.
Yang membuat program ini istimewa bukan hanya pada jumlah pohon yang ditanam, melainkan pada semangat kebersamaan yang menjadi napas dari keseluruhan proses. Sejak tahap wawancara awal hingga hari pelaksanaan, warga Gulangpongge senantiasa dilibatkan sebagai mitra setara, bukan sekadar objek program. Kehadiran dan partisipasi aktif masyarakat inilah yang pada akhirnya menjadi kunci keberhasilan sekaligus modal sosial berharga bagi keberlanjutan penghijauan Bukit Pengusen di masa mendatang.
Melalui program ini, Tim KKN Gunungwungkal Manunggal berharap ratusan pohon yang telah ditanam dapat tumbuh subur dan memberi manfaat nyata, baik dari sisi ekologis maupun daya tarik wisata Bukit Pengusen. Lebih dari itu, program ini diharapkan dapat menjadi teladan kecil tentang bagaimana kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat mampu menghasilkan perubahan yang berarti, sekalipun dikerjakan dengan sumber daya yang terbatas. Semangat gotong royong yang tumbuh selama program berlangsung diharapkan terus hidup dan dirawat oleh warga Gulangpongge, jauh setelah masa KKN ini usai.